Macapat adalah bentuk puisi tradisional Jawa yang dibacakan dengan cara dinyanyikan atau ditembangkan tanpa iringan instrumen. Karya sastra ini terikat oleh aturan-aturan metrum yang ketat dan umumnya digunakan untuk menyampaikan petuah, cerita, serta nilai-nilai moral.
Aturan Pembentuk (Paugeran)
Setiap bait tembang macapat terikat oleh tiga aturan utama:
Guru Gatra: Jumlah baris kalimat dalam setiap bait.
Guru Wilangan: Jumlah suku kata dalam setiap baris.
Guru Lagu: Kejatuhan vokal akhir (a, i, u, e, o) pada setiap baris.
11 Tembang dan Makna Filosofisnya
Macapat terdiri dari 11 jenis tembang yang melambangkan siklus perjalanan hidup manusia dari lahir hingga mati
➢Maskumambang = Kandungan
➢Mijil = Kelahiran
➢Kinanti = Balita yang perlu dibimbing
➢Sinom = Kalangan Muda/ Remaja
➢Asmarandana = Dewasa/ Percintaan
➢Gambuh = Cocok/ Pernikahan
➢Dandang Gulo = Rumah Tangga
➢Durmo = Berderma/ Mundurnya tata krama
➢Pangkur = Meninggalkan duniawi tuk Uhrowi
➢Megatruh = Mati/ pisahnya Ruh
➢Pucung = dibungkus kain Mori
Maskumambang
Masa kanak-kanak yang masih kandungan.
Mijil
Lahir atau keluarnya bayi ke dunia.
Kinanthi
Masa pembentukan rumah tangga dan bimbingan hidup.
Sinom
Masa muda atau remaja yang penuh potensi.
Asmaradana
Masa asmara dan ketertarikan pada lawan jenis.
Gambuh
Menemukan kecocokan dan hakikat tujuan hidup.
Dhandhanggula
Puncak kemapanan, kebahagiaan, dan rasa manis kehidupan.
Durma
Jiwa sosial atau masa melakukan derma dan perjuangan.
Pangkur
Masa mulai mundur dari nafsu duniawi dan mendekatkan diri pada Tuhan.
Megatruh
Terpisahnya roh atau nyawa dari raga (kematian).
Pocung
Jenazah yang dibungkus kain kafan (dipocong).