Peta Peninggalan zaman kolonial
Lambang Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
Bentuk asli dan setelah direnovasi dan tampak sampai saat ini
Outstanding Universal Value (OUV) Criterion (iii)
“to bear a unique or at least exceptional testimony to a cultural tradition or to a civilization which is living or which has disappeared”
The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks memberikan kesaksian yang luar biasa untuk peradaban Jawa dan tradisi budaya yang hidup setelah abad ke-16 Masehi.
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat tetap menjadi pusat peradaban Jawa dan pemeliharaan dan pengembangannya melalui praktik berbagai tradisi pemikiran, pemerintahan, hukum adat (paugeran), seni, sastra, festival, upacara, dan ritual di properti itu. Elemen kunci dari sistem ini adalah konsep Tata Rakiting Wewangunan, yang telah dikembangkan dan diturunkan sejak abad ke- 16.
Tata Rakiting Wewangunan mengacu pada pengelolaan menyeluruh dari aspek benda dan tak benda dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, termasuk bangunan, dekorasi, tanaman, sesaji, upacara, seni dan penggunaan ruang di Kompleks Kraton dan wider setting di seluruh properti.
Garis Imajiner Yogyakarta (atau sering disebut Sumbu Filosofi) adalah garis khayal lurus vertikal yang menghubungkan Gunung Merapi di utara, Keraton Yogyakarta di tengah, dan Laut Selatan (Pantai Parangkusumo/Parangtritis) di selatan. Konsep tata ruang kosmologis ini dicetuskan oleh Sultan Hamengkubuwono I pada abad ke-18 dan telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada 24 September 2023
Outstanding Universal Value (OUV) Criterion (ii)
“to exhibit an important interchange of human values, over a span of time or within a cultural area of the world, on developments in architecture or technology, monumental arts, town planning or landscape design”
The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks menunjukkan peran penting pertukaran nilai-nilai kemanusiaan dan ideide antara sistem kepercayaan yang berbeda dan tumpang tindih terkait dengan animisme Jawa dan pemujaan leluhur, Hindu dan Buddha dari India, Islam baik dari India atau Timur Tengah, dan pengaruh Barat, yang diadaptasi dan diintegrasikan ke dalam kepercayaan dan budaya Kerajaan Mataram selama ratusan tahun.
Pertukaran nilai yang penting dan kompleks ini telah menciptakan ansambel budaya yang luar biasa yang terbukti dalam perencanaan kota, arsitektur, dan monumen properti, serta upacara, festival, dan elemen warisan takbenda lainnya yang dipraktikkan hingga hari ini.
Sumbu Filosofi Yogyakarta adalah garis khayal lurus sepanjang 6 kilometer yang menghubungkan Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, dan Tugu Pal Putih (Tugu Yogyakarta). Sumbu ini merupakan mahakarya tata ruang warisan Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755 yang merepresentasikan seluruh perjalanan hidup manusia
Nilai-nilai spiritual dan eksistensial masyarakat Yogyakarta berakar pada tiga pilar filosofi yang termanifestasi dalam tata ruang Sumbu Filosofis:
Sangkan Paraning Dumadi (Asal dan Tujuan Penciptaan)
Kesadaran spiritual bahwa manusia dan seluruh isi dunia berasal dari Tuhan dan kelak akan kembali kepada-Nya (mulih mula mulanira). Nilai ini tidak hanya tecermin secara spasial dari Panggung Krapyak menuju Karaton, tetapi juga tertanam dalam karya sastra seperti urutan Tembang Macapat (menelusuri siklus hidup manusia dari dalam kandungan/Maskumambang hingga kematian/Pucung) serta gerakan fisik penghormatan berupa Sembah.
Hamemayu Hayuning Bawana (Memperindah dan Menjaga Dunia)
Kewajiban moral setiap manusia untuk aktif memelihara keharmonisan, kelestarian, dan keseimbangan alam semesta. Konsep ini memandu tata ruang kota agar selalu selaras dengan kondisi alam dan sosial sekitar.
Manunggaling Kawula Gusti (Penyatuan Rakyat dan Pemimpin)
Secara spiritual melambangkan kedekatan makhluk dengan Penciptanya. Secara sosial-politik, nilai ini menekankan pentingnya persatuan emosional, empati, dan keharmonisan antara pemimpin (Gusti) dengan rakyat yang dipimpinnya (Kawula).
Sistem nilai ini juga mengakui keterbatasan manusia di hadapan kekuasaan Tuhan yang tidak dapat digambarkan dengan perumpamaan apa pun (tan kena kinaya apa) di tengah dunia ciptaan-Nya yang selalu berubah-ubah (owah gingsiring kanyatan, mobah mosiking kahanan)
Kawasan Warisan Dunia Sumbu Filosofi Yogyakarta
● Sebanyak 144 atribut di sepanjang axis dirancang untuk mewujudkan filosofi kehidupan Jawa mengenai siklus kehidupan (Sangkan Paraning Dumadi), kehidupan harmoni dan ideal (Hamemayu Hayuning Bawono) dan hubungan antara manusia dan Tuhan (Manunggaling Kawula Gusti).
● Atribut ini antara lain adalah Panggung Krapyak, kompleks Kraton dan monument/bangunan/ ruang sepanjang axis dari utara ke Selatan sejauh 6 km hingga monumen Tugu Yogyakarta. Penanda ini terhubung melalui desain, ritual dan sistem pengelolaan tradisional dari Kraton Yogyakarta.
Video Penjelasan Sumbu Filosofi Ngayogyokarta Hadiningrat dalam bahasa Ingris
Video sederhana berupa animasi ditemani Sofi sebagai pemberi informasi tentang Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Watak Kesatriaan dan Karakter Keyogyakartaan
Yogyakarta memiliki rumusan tata nilai khas yang diatur melalui Perda DIY No. 4 Tahun 2011. Tata nilai ini mewajibkan pengerahan segenap sumber daya secara kolektif (golong gilig) dan terpadu yang diwujudkan dalam lima pilar karakter utama:
Sawiji: Konsentrasi penuh, menyatunya fokus, dan kebulatan tekad dalam bertindak.
Greget: Semangat, kegigihan, kesungguhan, dan kerja keras yang dinamis.
Sengguh: Kepercayaan diri yang kuat yang berjalan beriringan dengan rasa rendah hati.
Ora Mingkuh: Sikap pantang mundur dan penuh tanggung jawab dalam menghadapi segala risiko.
Kombinasi nilai ini membentuk jiwa watak satriya (semangat prajurit sejati) yang dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I bagi para punggawa istana dan segenap kawulanya. Karakter kepemimpinan dan perjuangan ini menjadi landasan etis dalam berperilaku sehari-hari di tengah masyarakat Yogyakarta
Kebudayaan Yogyakarta ditegaskan sebagai sistem yang hidup. Oleh karena itu, pelestarian tata nilai ini tidak boleh berhenti pada benda cagar budaya fisik semata, melainkan wajib diinternalisasikan ke dalam kebiasaan perilaku sehari-hari generasi muda. Di sinilah sekolah dan kepala sekolah berperan krusial sebagai pemimpin budaya (cultural leader), yang bertugas menerjemahkan nilai kosmologi luhur ke dalam visi, pembelajaran, dan budaya organisasi sekolah
Menjaga Kelestarian Kawasan Sumbu Filosofi Kawasan Warisan Dunia adalah tanggung jawab bersama: Setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO, Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta harus tetap mempertahankan nilai budaya, keaslian, dan karakter kawasannya agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Pelestarian dilakukan untuk:
● Melindungi atribut Warisan Dunia.
● Menjaga nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kawasan.
● Mengelola perubahan agar tidak mengurangi nilai warisan.
● Mendorong pemanfaatan kawasan secara berkelanjutan.
● Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelestarian.
Yang dijaga bukan hanya bangunannya, tetapi juga:
● Nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
● Karakter dan suasana kawasan.
● Kebersihan, ketertiban, dan kenyamanan.
● Tradisi serta aktivitas budaya yang masih berlangsung.